Diskusi Bahan Tanam Kakao dengan BBPPTP Ambon

Diskusi Bahan Tanam Kakao dengan BBPPTP Ambon

Ambon, 29 April 2016—Guna memperoleh gambaran umum yang lebih luas dan cakupannya nasional, survei bahan tanam yang dilakukan oleh salah satu gugus tugas Cocoa Sustainability Partnership, yakni Agro Input and Planting Material, melakukan diskusi dengan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP), Ambon, Maluku. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana bahan tanam kakao di wilayah Maluku, Maluku Tengah, dan Maluku Utara. Ibu Charlota menjelaskan bahwa wilayah kerja bidang proteksi tanaman perkebunan BBPPTP Ambon mencakup 10 provinsi di Indonesia, termasuk Sulawesi, dan untuk bidang perbenihan tanaman perkebunan mencakup 2 provinsi, yakni Maluku dan Maluku Utara. Wilayah kerja balai besar ini hanyalah mencakup budidaya dan proteksi, sedangkan untuk pasca panen menjadi wewenang pemerintah daerah atau dinas terkait.

Dari hasil diskusi ini juga diperoleh gambaran bahwa potensi kakao di Kepulauan Maluku sangatlah besar dengan dasar bahwa potensi lahan yang besar dan kondisi tanah yang masih subur, namun pada hakikatnya posisinya masih kalah dengan komoditi asli kepulauan ini seperti pala, cengkeh, kelapa, sagu, dan tebu. Selain itu pula, setelah pelaksanaan program pemerintah di sektor kakao beberapa tahun yang lalu, hingga saat ini belum ada program atau kebijakan pemerintah lainnya yang dilaksanakan di Maluku. 

Menyangkut bahan tanam itu sendiri, pada saat PTPN XIV masih aktif di Maluku, klon kakao unggul juga pada saat itu mulai dikembangkan dengan menggabungkan jenis klon dari PT. Mars dengan jenis klon lokal di Desa Holo, Maluku Tengah. Dan saat ini, jenis klon yang dikembangkan oleh petani adalah klon lokal yang telah ada sebelum adanya Program Gernas oleh pemerintah, dan bahkan klon tersebut sudah ada sejak masa perkebunan Belanda.

Hasil diskusi Cocoa Sustainability Partnership dengan BBPPTP Ambon ini mengemuka beberapa persoalan yang menyebabkan komoditi kakao menjadi kurang berkembang di Maluku, seperti (1) Masih kurangnya pengetahuan petani tentang GAP dan petani kakao di Maluku tidak terbiasa memelihara pohon-pohonnya. Ada slogan di Maluku yaitu, “selamat menanam semoga memanen,” artinya petani hanya menanam kakao dan tidak melakukan pemeliharaan dan syukur-syukur jika berbuah dan dapat panen. Selama ini, mereka hanya hanya mengandalkan kondisi lahan dan alam yang masih subur; (2) Masyarakat mempunyai banyak pilihan mata pencaharian selain berkebun kakao, misalnya nelayan, pengumpul buah pala, penyedia jasa ojek, dan sebagainya, sehingga mereka tidak bergantung kepada berkebun saja; (3) Tidak adanya keberlanjutan penerus generasi petani kakao karena pemuda-pemuda jarang yang tinggal di kampung halamannya; (4) Petani jarang ada yang melakukan pembibitan/budidaya kakao, umumnya mereka hanya mengharapkan dan bergantung bantuan dari program pemerintah; dan, (5) Di Pulau Seram ada seseorang yang bernama Bapak Masran Seto yang sangat peduli dengan budidaya kakao, dia mengembangkan beberapa jenis klon kakao dan telah bekerjasama dengan PT. Mars.

Dari diskusi ini, Cocoa Sustainability Partnership akan mencoba menghubungi kembali Bapak Masran Seto untuk menggali lebih banyak informasi tentang bahan tanam kakao di Maluku dan sembari memasukkan data jenis bahan tanam yang sudah diperoleh dari BBPPTP Ambon dan sementara menunggu pembaharuan data dari mereka. (CSP/AH)

BECOME A CSP MEMBER