COCOA SUSTAINABILITY PARTNERSHIP

Laporan Tahunan CSP 2019

Tahun ini, dukungan dari para pemangku kepentingan di sektor kakao ke CSP selama ini telah meningkat melalui kontribusi langsung dan tidak langsung terhadap pengembangan kakao berkelanjutan di Indonesia Anggota CSP juga merasakan kepuasan dan memberikan kepercayaan mereka terhadap Sekretariat CSP untuk mengelola data sebagai bukti keberhasilan pencapaian indikator kinerja utama; koordinasi dan keterlibatan yang lebih tinggi pada setiap kegiatan promosi dan praktik cerdas dalam pengembangan kakao berkelanjutan di Indonesia. Pemerintah nasional juga telah menunjukkan kolaborasi mereka dalam mencapai tujuan dan membagi pengalaman pada inisiatif penyediaan dan penerapan pupuk khusus kakao dan bahan tanam. Pihak lembaga pendanaan yang ada juga menyatakan keterlibatannya dalam untuk terlibat langsung dan memberikan dukungan mereka selama periode pelaporan ini. Semua indikator yang di atas menunjukkan bahwa sektor kakao di Indonesia masih menjanjikan dan bisa dikembangkan lebih lanjut, lebih nyata, lebih terukur, lebih bertanggung jawab, dan lebih banyak lagi ide dan inisiatif yang bisa diimplementasikan. Terima kasih atas dukungan pada anggota Dewan Pengawas, Chandra Panjiwibowo (Ketua Dewan Pengawas), dan Fay Fay Choo (Bendahara), dan anggota lainnya yang selalu memberikan dukungan dan kritik konstruktif. Terima kasih pula untuk para lembaga pendanaan (Rainforest Alliance, RIKOLTO, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, SCPP-Swisscontact, dan Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Repubik Indonesia) dan anggota baru CSP (PT. Pupuk Kalimantan Timur dan TMCI-ECOM Trading).

Laporan Tahunan CSP 2019

Laporan Tahunan CSP 2018

SEBAGAI salah satu keputusan penting yang diambil oleh anggota Cocoa Sustainability Partnership (CSP) pada tahun 2018 adalah memindahkan sekretariat CSP dari Makassar ke Jakarta. Diharapkan bahwa platform kakao nasional ini dapat melakukan dan membangun kerja sama yang lebih besar dengan para pemangku kepentingan di sektor kakao, khususnya pemerintah nasional, dalam hal harmonisasi inisiatif pengembangan keberlanjutan kakao. Dan, selama tahun yang sama, hasil yang bermanfaat telah ditunjukkan. Telah terbukti bahwa CSP dengan pemerintah pusat menunjukkan komitmen yang tinggi untuk memprioritaskan peningkatan ketahanan petani kakao dengan memberikan akses yang layak dan terjangkau untuk pupuk kakao spesifik bersubsidi, bahan penanaman kakao yang berkualitas dan bersertifikat, dan akses keuangan dalam mendukung program-program sebelumnya .

Laporan Tahunan CSP 2018

Laporan Tahunan CSP 2017

Laporan Tahunan CSP 2017

Laporan Tahunan CSP 2016

Laporan Tahunan CSP 2016

Ringkasan Eksekutif CSP 2016

Ringkasan Eksekutif CSP 2016

Majalah COKELAT: Vol. 19/Januari - Desember 2020

Pengaruh pandemi Covid-19 ini pun menyebabkan pembatasan segala hal dalam kehidupan bermasyarakat. Dan bukan hanya sektor kesehatan yang menerima imbasnya. Sektor perekonomian pun terseok-seok. Termasuk juga upaya pengembangan sektor kakao berkelanjutan di Indonesia. Pembatasan berskala besar pun juga memberikan dampak yang besar pada pekebun kakao rakyat di sentra-sentra produksi kakao nasional. Menyikapi hal tersebut, guna mendukung para pekebun kakao agar tetap berproduksi dengan aman, Cocoa Sustainability Partnership bersama anggota dan pemangku kepentingan lainnya di sektor kakao berkelanjutan di Indonesia tidak tinggal diam. Penggalangan bantuan pun diinisiasi dan memperoleh tanggapan positif. Beragam produk sanitasi kesehatan dan bahan pangan dibagikan secara merata di beberapa wilayah di Indonesia bagi pekebun kakao rakyat. Sangat diharapkan bahwa dukungan ini adalah bentuk sumbangsih nyata dari para pemangku kepentingan di sektor ini untuk tetap memberikan semangat kepada pekebun kakao dalam menopang perekonomian nasional. Pekebun kakao rakyat dan masyarakatnya inilah yang tetap memastikan roda rantai nilai sektor hulu hingga hilir kakao di Indonesia tetap berjalan di tengah pandemi. Kita semua tentu saja berupaya untuk memunculkan harapan di tengah serangan pandemi penyakit Covid-19 ini. Dan Cocoa Sustainability Partnership beserta anggota dan pemangku kepentingan lainnya di sektor kakao berkelanjutan di Indonesia tidak akan pernah berhenti untuk memberikan dukungan kepada pekebun kakao rakyat dan masyarakatnya.

Majalah COKELAT: Vol. 19/Januari - Desember 2020

Majalah COKELAT: Vol. 18/Januari - April 2019

SEMENJAK Cocoa Sustainability Partnership (CSP) didirikan, para anggota dan pemangku kepentingan di sektor kakao lainnya telah menyampaikan suara petani kakao yang tersebar di sentra-sentra produksi kakao nasional akan harapan mereka terhadap kebutuhan sebuah formulasi pupuk yang dikhususkan untuk komoditas kakao. Semenjak itu pula, CSP beserta anggotanya telah mengupayakan untuk menghimpun pengalaman, praktik cerdas, kajian, penelitian, dan inisiatif yang telah dihasilkan melalui upaya bersama dengan para petani guna mencari jalan keluar bagaimana mengembalikan unsur hara di tanah dan tanaman. Melalui Gugus Tugas Agro Input dan Bahan Tanam, para anggota CSP mulai mengumpulkan dan mengkaji ulang pengalaman-pengalaman sebelumnya yang telah diterapkan di lapangan. Hasilnya pun menggembirakan. Melalui Rapat Umum Anggota Cocoa Sustainability Partnership yang dilaksanakan pada tanggal 09 Agustus 2017, dokumen hasil yang diberi judul Rasio Nutrisi Pupuk untuk Mengembalikan Unsur Hara: Pedoman dan Prinsip-Prinsip dalam Memilih Pupuk yang Tepat untuk Kakao pun dipaparkan. Dan untuk menyempurnakan temuan penting tersebut, para ahli kakao dan ilmu tanah juga dilibatkan dalam memberikan pandangan ilmiah tentang rumusan pengganti nutrisi dan unsur hara tersebut. Namun, kerja keras Cocoa Sustainability Partnership dan anggotanya serta para pemangku kepentingan di sektor kakao berkelanjutan di Indonesia tidak berhenti di sini. Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah bagaimana agar pupuk khusus kakao tersebut bisa diproduksi dan dinikmati oleh para petani kakao di Indonesia. Mengingat pengalaman selama ini bahwa hanya pupuk tanaman pangan yang difasilitasi oleh pemerintah penyalurannya dan anggaran subsidi yang dialokasikan.

Majalah COKELAT: Vol. 18/Januari - April 2019

Majalah COKELAT: Vol. 17/September - Desember 2018

Pengembangan sektor kakao berkelanjutan di Indonesia adalah upaya bersama yang dikoordinasikan oleh para pemangku kepentingan melalui Cocoa Sustainability Partnership. Sepanjang tahun 2018 ini, telah banyak pencapaian yang dilakukan untuk diarahkan pada pengembangan sektor kakao berkelanjutan di tanah air. Upaya tersebut diterapkan agar tingkat kesejahteraan petani kakao dan masyarakatnya bisa ditingkatkan dengan cara perbaikan mutu biji kakao dan peningkatan produktivitas tanaman kakao. Koordinasi dan komunikasi yang dibangun para anggota Cocoa Sustainability Partnership pun terus menerus dikembangkan melalui pertemuan-pertemuan yang melibatkan semua pemangku kepentingan di sektor kakao berkelanjutan di Indonesia. Sinergi dengan pemerintah, baik pemerintah nasional dan daerah, juga ditingkatkan sesuai dengan mandat platform nasional untuk kakao berkelanjutan ini. Sebuah upaya yang tentu saja tidak mudah. Namun dengan dukungan dari para anggotanya, Cocoa Sustainability Partnership pun mampu mengupayakan arah perubahan tersebut. Dalam mewujudkan arah pengembangan sektor kakao yang berkelanjutan di Indonesia, Cocoa Sustainability membuka diri untuk melakukan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor ini. Dan semua upaya bersama yang diterapkan dan dikoordinasikan tersebut akan bermuara pada peningkatan kesejahteran petani kakao dan masyarakatnya.

Majalah COKELAT: Vol. 17/September - Desember 2018

Majalah COKELAT: Vol. 16/Mei - Agustus 2018

Kakao fermentasi sudah lama diupayakan, dan diwajibkan di Indonesia. Kementerian Pertanian Republik Indonesia, telah mengeluarkan Permentan No. 67/Permentan/OT.140/5/2014 tentang Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao. Permentan ini sendiri, sejak disahkan tanggal 21 Mei 2014 ini, rencananya mulai diberlakukan efektif pada tahun 2016 silam. Dalam ketentuan itu, pemerintah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) biji kakao dan untuk memenuhi SNI tersebut komoditas kakao dari petani harus difermentasi terlebih dahulu. Biji kakao yang dipasarkan harus memenuhi standar mutu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal Lokasi-Biji Kakao (SKAL-BK) dan Sertifikat Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian (SJM-BK). Namun dalam masa uji cobanya, Permentan ini kemudian ditangguhan untuk beberapa periode yang tidak ditentukan. Beragam opini bermunculan di masyarakat dan menjadi pokok diskusi yang terjadi di lingkungan para pemangku kepentingan di sektor kakao. Dan di luar semua perdebatan tersebut, sebuah kabupaten di Provinsi Bali, memberikan sisi pandang yang berbeda tentang bagaimana sebuah koperasi bekerja bersama masyarakat petani kakao untuk memproduksi kakao fermentasi. Dan dibuktikan pula bagaimana hasil tersebut bisa diwujudkan. Para petani di Kabupaten Jembrana pun membuktikan bahwa kakao fermentasi adalah hal yang mampu diupayakan, dan ketersediaan pasar yang lebih menjamin.

Majalah COKELAT: Vol. 16/Mei - Agustus 2018

Majalah COKELAT: Vol. 15/Januari - April 2018

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh para petani kakao di Indonesia adalah adanya kesenjangan pengetahuan yang dimiliki. Dan untuk mengurangi kesenjangan tersebut, Cocoa Sustainability Partnership bersama dengan anggotanya, menghimpun koordinasi dan kerja sama dengan Pusat Pelatihan Pertanian, Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, Republik Indonesia untuk menciptakan sebuah pedoman dan dokumen negara yang berupa Kurikulum Nasional dan Modul Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca Panen Kakao. Kurikulum dan modul pelatihan ini nantinya akan digunakan sebagai bahan acuan utama bagi para tenaga penyuluh pemerintah, swasta, dan swadaya untuk melakukan pendampingan langsung kepada petani di lapangan. Persoalan lainnya yang dirasa menjadi kendala utama dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas kakao adalah ketersediaan dan keterjangkauan pupuk spesifik untuk tanaman kakao. Dan mengingat hal tersebut, anggota-anggota Cocoa Sustainability Partnership yang tergabung dalam Gugus Tugas Agro Input and Planting Material mengeluarkan sebuah rekomendasi Rasio Nutrisi Pupuk untuk Mengembalikan Unsur Hara. Rekomendasi ini kemudian nantinya bisa diaplikasikan oleh para penggerak pendampingan petani kakao sebagai pedoman dan prinsip dalam memilih pupuk yang tepat untuk kakao

Majalah COKELAT: Vol. 15/Januari - April 2018

Majalah COKELAT: Vol. 14/September - Desember 2017

Hampir di setiap negara yang masyarakatnya dominan bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, fenomena yang dihadapi adalah semakin berkurangnya jumlah tenaga kerja pertanian yang dikategorikan sebagai usia muda. Demikian pula halnya dengan Indonesia. Di kantong-kantong produksi pertanian, jumlah petani muda semakin menurun. Bersama dengan para pihak, Cocoa Sustainability Partnership pun merespon hal tersebut. Para aktor yang bekerja di sektor perkebunan kakao mencoba menarik perhatian para generasi muda untuk terlibat langsung dalam sektor ini. Upaya yang dilakukan adalah mengumpulkan para petani muda di beberapa daerah di Indonesia dalam wujud lokakarya. Pihak pemerintah pun juga dihadirkan. Setidaknya untuk memberikan gambaran umum tentang bagaimana upaya pemerintah dalam menarik perhatian generasi muda ke sektor pertanian dan perkebunan. Dalam edisi ini juga, COKELAT menghimpun beberapa praktik baik yang dijalankan oleh masyarakat untuk mengembalikan kejayaan kakao berkelanjutan Indonesia. Salah satu upaya tersebut adalah menciptakan ruang-ruang pembelajaran bersama dan berbagi pengalaman. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk kampung kakao atau kampung cokelat.

Majalah COKELAT: Vol. 14/September - Desember 2017

Majalah COKELAT: Vol. 13/September - Desember 2016

Salah satu hambatan yang selama ini dihadapi petani kakao di Indonesia adalah ketersediaan bahan tanam berkualitas dan bersertifikat, dan pupuk yang tersedia dan terjangkau. Peranan para pemangku kepentingan di sektor kakao sangatlah penting untuk menunjang hal tersebut. Sesuai dengan fungsinya, Cocoa Sustainability Partnership sebagai forum kemitraan publik-swasta menghimpun para pemangku kepentingan tersebut untuk terlibat aktif demi kemajuan pengembangan kakao berkelanjutan di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dewan Kakao Indonesia, dan Cocoa Sustainability Partnership menyelenggarakan sebuah lokakarya dan seminar nasional yang membicarakan tentang tata kelola berkelanjutan kesuburan tanah dan pupuk untuk kakao Indonesia. Dalam penyajiannya, para ahli dan pengambil keputusan dengan memadukan pengalaman yang di lapangan, mencoba menguraikan seperti apa persoalan kesuburan tanah dan akses pupuk bagi petani kakao di Indonesia. Beberapa pembicara pun membagi kajian mereka dalam edisi COKELAT kali ini.

Majalah COKELAT: Vol. 13/September - Desember 2016

Majalah COKELAT: Vol. 12/Januari - Mei 2016

Sebagai tujuan bersama para pemangku kepentingan di sektor kakao, Cocoa Sustainability Partnership memainkan peran yang signifikan dalam menghimpun dan membangun koordinasi dan komunikasi antar lini untuk menciptakan kakao berkelanjutan di Indonesia. Tugas besar tersebut kemudian diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung dari hulu hingga hilir, dari sektor pengambilan keputusan hingga ke forum-forum pekebun kakao yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Oleh karenanya, untuk mengantar kita semua ke sektor kakao Indonesia yang berkelanjutan, dan untuk memberikan gambaran umum, maka dalam edisi COKELAT ini isu besar tersebut akan diurai dalam tiga bagian utama. Dan edisi awal tahun ini, para pemangku kepentingan di sektor kakao dimintai pendapatnya tentang seperti apa Pertanian Berkelanjutan itu, atau Produksi Berkelanjutan, untuk kakao Indonesia. Dan kemudian di edisi-edisi berikutnya akan menguraikan bagian-bagian yang membangun isu keberlanjutan itu sendiri.

Majalah COKELAT: Vol. 12/Januari - Mei 2016

Majalah COKELAT: Vol. 11/Mei - Agustus 2015

Semakin banyak upaya yang dilakukan oleh organisasi dan lembaga untuk meningkatkan jalur masyarakat dan petani ke sumber pendanaan. Pemerintah sendiri pada 2007 mulai memberikan penjaminan kredit bagi usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi (UMKMK) melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Skema ini memberikan sarana kreditnya melalui PT. Askrindo dan Perum Jamkrindo dengan enam bank pelaksana, yaitu Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin. Pemberdayaan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus untuk menanggulangi kemiskinan. Selain KUR, pemerintah juga mengembangkan paket kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan sektor nyata yang mendukung UMKMK. Kebijakan yang mendukung dan meningkatkan daya kerja UMKMK.

Majalah COKELAT: Vol. 11/Mei - Agustus 2015

Majalah COKELAT: Vol. 10/Januari - April 2015

Kajian untuk mendapatkan klon kakao yang berproduksi tinggi dan tahan terhadap penyakit diperlukan waktu dan keseriusan serta ketekunan tersendiri; bahkan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, seperti diceritakan pada artikel halaman 10, butuh waktu setidaknya satu dekade untuk menciptakan satu klon. Klon–klon unggul merupakan hasil pemuliaan yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan dari suatu material genetik, baik oleh lembaga penelitian maupun petani sendiri. Mereka terus berupaya untuk menciptakan sebuah bahan tanam yang memiliki daya hasil tinggi, paling tidak sampai dua ton per hektar per tahun, dan tentunya tahan terhadap hama penyakit.

Majalah COKELAT: Vol. 10/Januari - April 2015

Majalah COKELAT: Vol. 09/Agustus - Desember 2014

Di habitat aslinya di hutan Amazon, kakao tumbuh dalam bayang-bayang tanaman lain, gelap dan padat; kakao pun tumbuh lambat dan tidak banyak menghasilkan buah. Meski begitu, kebutuhan gizi yang diperlukannya justru sedikit karena unsur hara tersebar di seluruh lantai hutan. Sama seperti manusia, gizi diambil oleh kakao untuk membantu pertumbuhan dan menghasilkan buah. Gizi bisa dihasilkan dari daun yang telah menjadi kompos atau diambil langsung dari dalam tanah. Tapi ketika dibudidayakan di kebun, kakao tentunya diharapkan bisa tumbuh cepat dan menghasilkan buah yang banyak. Karena itu, perlakukan khusus wajib dilakukan untuk mencapai harapan tersebut. Dalam budi daya kakao modern, pemupukan bertujuan untuk membantu pertumbuhan dan memperoleh produksi yang tinggi secara terus menerus. Karena itu siapa pun yang mengusahakan tanaman ini, perlu memiliki pemahaman yang baik tentang faktor-faktor terpenting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Pemahaman itu kemudian dipraktikkan dalam pengelolaan kebun secara terus menerus pula. Semua yang ada di dalam kebun saling berhubungan dengan unsur hara. Dimulai dari yang paling penting seperti pemilihan jenis bahan tanam. Pemilihan bahan tanam memengaruhi daya panen, pertumbuhan, dan unsur hara yang diperlukan. Praktik pembibitan dan pemilihan tanaman pelindung pun memengaruhi mutu bibit, pertumbuhan tanaman, dan penyebaran unsur hara. Pengendalian gulma membantu mengurangi persaingan dalam memperoleh unsur hara. Sementara kepadatan tanaman memengaruhi jumlah unsur hara yang tersebar, sehingga berpengaruh pula pada produksi dan tingkat pertumbuhan. Dalam edisi ini teknik pengelolaan dan berbagai saran dalam pemupukan diuraikan secara menyeluruh, sekaligus memberikan pemahaman bahwa faktor agronomi, masalah gizi, dan pertumbuhan kakao saling berhubungan. Kami berharap edisi kali ini dapat membantu petani dan penyuluh dalam memastikan bahwa praktik penanaman terbaik dapat membawa hasil terbaik, dan yang terpenting, mengurangi pemakaian pupuk buatan. Selamat membaca!

Majalah COKELAT: Vol. 09/Agustus - Desember 2014

Majalah COKELAT: Vol. 08/Maret - Mei 2014

Sebagai salah satu komoditas andalan Indonesia, kakao mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia, yaitu sebagai penyumbang devisa negara peringkat ketiga di sektor perkebunan. Pada tahun 2012, komoditas kakao telah menyumbang devisa sebesar USD1,053,446,947 dari ekspor biji kakao dan produk kakao olahan*. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam memajukan industri hilir di dalam negeri terbukti membawa hasil dalam pengembangan industri kakao Indonesia. Salah satunya dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) demi menjaga mutu bubuk kakao yang beredar di dalam negeri. Program industri hilir yang dicanangkan oleh Kementrian Perindustrian juga mampu mengangkat industri kakao nasional sehingga dapat bersaing, baik di pasar domestik maupun global, serta memberikan sumbangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi negara kita. Saat ini pertumbuhan permintaan kakao dunia sekitar empat juta ton per tahun. Data International Cocoa Organization (ICCO) menyatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, permintaan kakao tumbuh rata-rata 5% per tahun. Di masa depan, komoditas kakao memiliki daya yang besar untuk dikembangkan. Diperkirakan, konsumsi kakao di Indonesia, India, dan Cina akan mencapai 1 kg / kapita / tahun sehingga akan ada permintaan tambahan sekitar 2,2 juta ton biji kakao per tahun. Dalam edisi ini akan dipaparkan daerah-daerah yang sedang beranjak untuk menghasilkan kakao secara besar-besaran, serta kebijakan yang telah mereka keluarkan untuk memenuhi permintaan di masa depan. Anda juga dapat melihat industri kecil yang semakin tumbuh subur dan banyaknya investor asing yang membangun pabrik baru di Indonesia. Bentuk-bentuk peningkatan produksi dan produktivitas berkesinambungan juga dapat dibaca dalam edisi ini. Kita semua berharap, dengan peran serta pemerintah, Indonesia akan menjadi penghasil kakao terbesar sekaligus menjadi konsumen cokelat nomor satu di dunia. Selamat membaca!

Majalah COKELAT: Vol. 08/Maret - Mei 2014

Majalah COKELAT: Vol. 07/Desember - Februari 2014

Majalah COKELAT: Vol. 07/Desember - Februari 2014

Majalah COKELAT: Vol. 06/Oktober - Desember 2013

Salah satu sumber daya alam yang paling penting, dan menutupi sebagian dari permukaan bumi adalah tanah. Banyak kehidupan di bumi bergantung pada tanah sebagai sumber makanan langsung maupun tidak langsung. Tanaman berakar di dalam tanah dan mendapatkan gizi dari situ. Hewan juga mendapatkan gizi dari makanan yang ada di dalam tanah. Tanah adalah rumah dari banyak organisme seperti biji, spora, serangga, dan cacing. Isi tanah selalu berubah dan ada banyak jenis tanah; tanah juga terbentuk sangat lambat dan mudah hancur, sehingga harus dirawat agar dapat terus mendukung kehidupan. Tanah dapat kita bandingkan dengan bank atau mesin ATM, di mana penarikan uang tidak dapat dilakukan tanpa batas. Ketika gizi dikuras habis dan tidak cepat diganti, maka sudah pasti panen akan berkurang. Perhitungan yang akurat untuk mengganti gizi tanah, statistik produksi tanaman, dan hasil analisis tanah, akan membantu petani menyuburkan kembali lahannya. Untuk menghasilkan tanaman yang baik, petani perlu menyuburkan tanah. Pemupukan akan meningkatkan hasil panen, dan tanaman yang baik secara tidak langsung akan mempertahankan, bahkan membangun struktur dan mutu tanah. Jika hal-hal tersebut tidak dilakukan dengan benar, tentunya akan berdampak negatif. Kami akan menunjukkan kepada Anda, betapa pentingnya mengembalikan gizi ke dalam tanah, bagaimana melakukannya, dan bagaimana mempertahankannya, sehingga tidak ada lagi tanah yang rusak.

Majalah COKELAT: Vol. 06/Oktober - Desember 2013

Majalah COKELAT: Vol. 05/Juli - September 2013

Gambaran Jelas Mengenai Suatu Perubahan Beberapa tahun terakhir, kesadaran konsumen untuk menggunakan produk makanan bersertifikasi semakin luas. Masyarakat tidak lagi melihat dari bagusnya kemasan, atau rasa yang ditawarkan, melainkan bagaimana produk makanan itu dibuat, apakah bahan bakunya dipupuk dengan bahan organik, sampai memastikan tidak ada produsen yang mempekerjakan anak di bawah umur. Masyarakat semakin kritis, mereka tidak lagi hanya mengedepankan aspek ekonomis, tapi juga aspek sosial serta lingkungan. Indonesia sebagai penghasil bahan baku cokelat nomor tiga dunia, tentunya melihat kenyataan ini sebagai peluang emas dalam meningkatkan kualitas kakao yang dihasilkan. Pada 2009, para pemegang kepentingan seperti pemerintah, lembaga-lembaga sertifikasi, dan produsen cokelat berhasil merumuskan sebuah standar yang membimbing petani dalam praktik berkebun lebih baik serta memerhatikan aspek budaya serta keanekaragaman hayati tanah leluhurnya. Standar yang disebut Indikator Nasional untuk Kesinambungan Kakao ini kemudian diterapkan dalam bentuk penyertifikatan petani yang berkesinambungan. Kami ingin memberi gambaran lebih jelas mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung sejak dijalankannya sertifikasi, terutama di pusat-pusat penghasil kakao terbesar Indonesia. Kami juga memaparkan hasil yang didapat oleh petani dari sertifikasi, masukkan mereka terhadap pemegang kepentingan, serta temuan-temuan yang didapat pengelola rantai pasokan di daerah. Tidak lupa kegiatan sejumlah perempuan sebagai contoh petani lain yang bertekad meningkatkan penghasilannya. Edisi ini sekaligus menjadi edisi ulang tahun pertama bagi Cokelat, yang ikut mengusung perubahan dalam segi desain dan isi. Kami menampilkan desain yang lebih sederhana tanpa harus mengurangi bobot majalah; sementara isi yang lebih mengangkat permasalahan dan keluhan petani, kami percaya dapat memperlihatkan apa sebenarnya yang dibutuhkan petani sekaligus membantu semua pihak dalam memperbaiki praktik-praktik yang sudah ada. Tanpa mengulur waktu lagi, silahkan membuka halaman berikutnya dan selamat membaca.

Majalah COKELAT: Vol. 05/Juli - September 2013

Majalah COKELAT: Vol. 04/Maret - Mei 2013

Mendorong Petani Menjadi Inovatif dan Kreatif Awal tahun, biasanya dibarengi dengan tekad untuk berbuat sesuatu yang baru dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Demikian juga dalam edisi Cokelat kali ini. Kami mencoba mengangkat semangat pembaharuan dengan mempersembahkan artikel-artikel yang diharapkan dapat menginspirasi pembaca untuk mencoba hal-hal baru. Kami menampilkan semangat petani di Flores dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam budidaya dan pemasaran hasil kakao mereka dengan kondisi alam yang kurang bersahabat dan fasilitas yang minim di pulau tersebut. Pengalaman ini kami tuangkan dalam dua tulisan feature mengenai pengaruh budaya dan profil dua Koperasi. Mendorong petani untuk menjadi petani yang inovatif dan kreatif sangat penting untuk mengurangi kerentanan petani terhadap resiko kegagalan hasil tani mereka, khususnya dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini. Penggunaan bahan organik dan memanfaatkan limbah hasil pertanian yang tesedia di sekitar bisa menjadi pilihan. Dua peneliti yang terlibat dalam dua penelitian ACIAR memaparkan tips untuk mendorong inovasi petani dan bagaimana merevitalisasi lahan dengan menggunakan pupuk organik. Selanjutnya, model agrifinancing yang dikembangkan oleh IFC dapat menjadi contoh untuk mengatasi masalah petani dalam mengakses modal.

Majalah COKELAT: Vol. 04/Maret - Mei 2013

Majalah COKELAT: Vol. 03/Desember - Februari 2013

2012 adalah tahun yang mengagumkan! Kami mulai menerbitkan Cokelat tahun ini dengan perasaan agak frustasi, tapi hal ini ikut berperan. Cukup berperan untuk membuat semua hal menjadi kenyataan. Salah satu tujuan utama kami adalah untuk menemukan cara yang lebih baik untuk membantu semua pelaku di sektor kakao, terutama para petani kakao dalam upaya mewujudkan kakao berkelanjutan. Untuk mempublikasikan konten yang lebih baik, dalam berbagai bentuk, yang akan membuat perbedaan yang benar-benar nyata. Dan untuk menjangkau lebih banyak pembaca dengan hal-hal tersebut. Kami telah berusaha untuk mendapatkan informasi terbaru bagi seluruh pembaca kami. Dalam edisi ini, kami mencoba untuk mencakup beberapa hal mengenai pasca panen, waktunya membayar segala usaha dalam membudidayakan kakao waktunya perayaan. Sebagai edisi terakhir tahun 2012, kami juga ingin menyampaikan beberapa hal kepada Anda. Anda semua memainkan peran besar dalam membuat semua hal menjadi nyata. Terima kasih atas komentar Anda, yang sering membantu kami dengan topik-topik baru untuk ditulis. Terima kasih untuk link-nya, dan untuk memberitahu orang lain tentang Cokelat. Terima kasih untuk ada di sini, membaca dan bekerja bersama kami sebagaimana kami semua bekerja ke arah tujuan-tujuan kami. Kami memiliki harapan besar tentang 2013 dan sangat bersemangat untuk menyongsong tahun baru ini bersama-sama. Mari rayakan kesempatan yang datang di 2013 dan melangkah ke depan untuk tahun yang lebih baik.

Majalah COKELAT: Vol. 03/Desember - Februari 2013

Majalah COKELAT: Vol. 02/Juli - September 2012

PENINGKATAN produksi dan produktivitas kakao berkelanjutan di Indonesia adalah tujuan utama dari semua upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di sektor kakao. Tujuan ini bertujuan sebagai alat dalam meningkatkan kesejahteraan petani kakao di seluruh nusantara. Ini adalah upaya yang signifikan, dengan merujuk bahwa sebagian besar kegiatan budidaya kakao di Indonesia dilakukan oleh petani kecil. Tidak mengherankan jika penanaman kakao selalu terkait dan disebut sebagai pertanian rakyat.

Majalah COKELAT: Vol. 02/Juli - September  2012

INFORMASI STAKEHOLDER

Kurikulum Nasional dan Modul Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca Panen Kakao

Bahasa Indonesia

Kurikulum Nasional dan Modul Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca Panen Kakao

Peta Jalan Pengembangan Kakao Berkelanjutan Indonesia 2020

Bahasa Inggris

Peta Jalan Pengembangan Kakao Berkelanjutan Indonesia 2020

Prinsip-Prinsip Utama Praktik-Praktik Pertanian Baik untuk Kakao Berkelanjutan Indonesia

Bahasa Indonesia

Prinsip-Prinsip Utama Praktik-Praktik Pertanian Baik untuk Kakao Berkelanjutan Indonesia

Penyebaran Popularitas Klon Kakao di Indonesia

Bahasa Inggris

Penyebaran Popularitas Klon Kakao di Indonesia

Penyebaran Umum Klon Kakao di Indonesia

Bahasa Inggris

Penyebaran Umum Klon Kakao di Indonesia

Sumber Benih Kakao di Indonesia: Kebun Entres

Bahasa Indonesia

Sumber Benih Kakao di Indonesia: Kebun Entres

Sumber Benih Kakao di Indonesia: Kebun Benih

Bahasa Indonesia

Sumber Benih Kakao di Indonesia: Kebun Benih
LAPORAN MENJADI ANGGOTA